![]() |
| Foto: Stephanus Ola Demon |
Tampilkan postingan dengan label Infrastruktur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infrastruktur. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Maret 2023
Senin, 17 September 2018
Sabtu, 24 Maret 2018
Selasa, 07 November 2017
Rabu, 19 Juli 2017
Melawat ke Mata Air Waigemang Papilawe
![]() |
| Foto: Pion Ratulolly |
Gemericik air yang membentur
bebatuan, seketika menyambangi telinga Anda, manakala kaki Anda tiba menginjaki
tebing mata air Waigemang, Papilawe, Desa Nubalema, Kec. Adonara Tengah. Bunyi
kecipak air dengan debit lumayan besar itu tentu dapat memancing hasrat Anda
untuk turun dan sesegera mungkin membasahi badan dengan air super jernih ini.
Rasakan belaian jemari air
yang betapa sejuk ini mengaliri wajah, kelopak mata, hidung, pipi hingga
keseluruhan wajah. Bila perlu, basahi badan Anda dengan air alami di tengah
belantara ini. Mandilah.
Air-air yang mengalir melalui
pipa bambu dan paralon ini berasal dari celah-celah bukit, dari dalam tanah.
Serupa mata perawan kampung yang tengah meluruhkan air mata dari kelopak
matanya, demikianlah permisalan sumber mata air ini.
Suasana ini ditunjang pula
dengan angin yang bertiup sepoi bin lembut dari lereng bukit bisa jadi sanggup
melelapkan mata Anda sejenak saja. Belum lagi aroma tetumbuhan hijau di sekitar
mata air yang membuat Anda merasa lekat membaui keintiman lekuk tubuh hutan
ini.
Letaknya tidak jauh dari pusat
kampung. 343 meter dari kantor kepala desa menuju arah selatan, mata air
Waigemang ini berada. Penduduk memanfaatkan mata air ini sebagai tempat mandi
dan cuci serta ditadah untuk keperluan masak bila air ledeng tidak lancar
mengalir.
Siang tadi, Sang Kepala Desa
Hamid Jafar bersama aparat dan beberapa warga, memasang instalasi kabel dari
kampung menuju mata air ini. Karena, dalam waktu dekat akan dipasang mesin
pompa air yang bakal menyedot mata air ini untuk dialirkan ke rumah-rumah warga
melalui pipa besi. Saat ini, warga masih menikmati air ledeng yang berasal dari
mata air di Kenotan yang kian hari berangsur kurang debit airnya.
Makanya, ke depan, mata
air Waigemang ini dijadikan sebagai penyuplai air alternatif bagi penduduk di
kampung ini. Bahkan bila pemerintah nekat, tempat ini dapat disulap jadi lokasi
wisata alam. Itu kolam air jernih alami. (teks: Pion Ratulolly)
Minggu, 18 Juni 2017
Mengenal Masjid Baburrahman Papilawe
![]() |
| Foto: Pion Ratulolly |
Baburrahman nama masjidnya.
Letaknya berada di tengah kampung, tidak jauh dari bale adat kampung ini.
Luasnya tidak seberapa. Paling kisaran belasan kali belasan meter.
Sepintas, bangunan masjid ini
sudah lumayan sepuh. Itu terlihat dari dinding luar masjid yang teksturnya
tidak lagi lembut. Catnya pun sudah memudar. Kusen jendela dan pintu serta
tiang-tiang atapnya sudah tua dan mungkin sedikit rapuh.
Kendati begitu, di bagian
dalam masjid, utamanya bagian depan, ukiran catnya cukup mengundang daya tarik
untuk dipandang. Perpaduan warna hijau, putih, dan hitam menjadikan ukirannya
terkesan lembut dan bertema alam. Kaligrafi-kaligrafi membentang indah di atas
mirhab memberi kesan Islami dan Qur'anik.
Suasana dalam masjid pun
lumayan sejuk. Tidak mengherankan karena Papilawe berada di puncak bukit.
Udara-udara yang bertiup lembut seakan mengajak jamaah untuk berbaring sejenak
di dalam masjid. Selain itu, lantai masjid yang terbuat dari keramik mendukung
kesejukan masjid ini.
Dari seorang jamaah, kami
mendapat kabar bahwa selepas Lebaran, masjid ini akan direnovasi. Panitia
pembangunan sudah mendapatkan bantuan dana dari Bank Indonesia Pusat di
Jakarta. Serta swadaya masyarakat sebesar 1 juta rupiah per-Kepala Keluarga. (teks: Pion Ratulolly)
![]() |
| Foto: Pion Ratulolly |
Kamis, 25 Mei 2017
Jumat, 31 Juli 2015
Kamis, 23 Juli 2015
Langganan:
Postingan (Atom)












